Kalau melihat hasil pemetaan LiDAR, kita mungkin langsung membayangkan peta kontur, model permukaan tanah, atau visualisasi tiga dimensi.
Padahal sebelum sampai ke bentuk tersebut, data LiDAR awalnya berupa kumpulan titik dalam jumlah sangat banyak yang disebut point cloud.
Titik-titik inilah yang menjadi dasar untuk melihat bentuk permukaan, ketinggian, vegetasi, bangunan, hingga objek lain yang ada di area pemetaan.
Lalu, sebenarnya apa itu point cloud dan bagaimana data tersebut bisa digunakan dalam pemetaan?
Biar nggak bingung, kamu juga bisa membaca artikel Apa Itu LiDAR dan Bagaimana LiDAR Bekerja? untuk mengenal prinsip dasar serta penggunaannya.
Apa Itu Point Cloud LiDAR?
Secara sederhana, point cloud adalah kumpulan titik yang memiliki posisi tiga dimensi.
Setiap titik memiliki informasi koordinat X, Y, dan Z. Artinya, selain menunjukkan posisi suatu objek secara horizontal, titik tersebut juga menyimpan informasi ketinggiannya.
USGS menjelaskan bahwa data LiDAR pada awalnya memang dikumpulkan dalam bentuk point cloud yang merekam pantulan dari berbagai objek di permukaan, termasuk tanah, bangunan, hingga vegetasi.
Karena jumlah titiknya bisa sangat banyak, jika divisualisasikan bersama, point cloud akan membentuk gambaran tiga dimensi dari area yang dipetakan.
Sekilas memang terlihat seperti kumpulan titik biasa. Tapi dari data inilah berbagai produk pemetaan bisa dibuat.
Bagaimana Point Cloud Terbentuk?
LiDAR bekerja dengan memancarkan sinyal laser menuju objek di permukaan.
Ketika laser mengenai tanah, pohon, bangunan, atau objek lain, pantulannya akan kembali ke sensor. Waktu perjalanan sinyal tersebut kemudian digunakan untuk menghitung jarak antara sensor dan objek.
Proses ini dilakukan berkali-kali selama survei berlangsung.
Hasilnya adalah ribuan hingga jutaan titik yang merekam bentuk area dari berbagai posisi.
Saat digunakan pada drone atau pesawat, data tersebut juga dikombinasikan dengan informasi posisi dari GNSS dan orientasi sensor dari IMU. Dengan begitu, setiap titik dapat ditempatkan pada posisi yang sesuai.
Biar tahu gimana penerapannya, baca juga artikel Mengenal Drone LiDAR: Solusi Pemetaan Udara Canggih dari Oseanland Indonesia.
Point Cloud Belum Langsung Menjadi Peta
Setelah proses survei selesai, point cloud biasanya masih berisi berbagai jenis objek sekaligus.
Tanah, pohon, bangunan, kendaraan, hingga titik-titik yang tidak dibutuhkan masih bisa berada dalam satu data yang sama.
Karena itu, data perlu melalui proses pengolahan dan klasifikasi.
Misalnya, titik yang berasal dari permukaan tanah dapat dimasukkan ke dalam kelas ground. Sementara titik yang berasal dari pohon, bangunan, atau objek lainnya masuk ke kelompok non-ground.
Pemisahan ini penting karena hasil akhirnya akan digunakan untuk kebutuhan yang berbeda.
Jika yang dibutuhkan adalah bentuk permukaan tanah, misalnya, maka titik vegetasi dan bangunan perlu dipisahkan terlebih dahulu agar kondisi terrain bisa terlihat lebih jelas.
Apa yang Bisa Dibuat dari Point Cloud LiDAR?
Setelah melalui proses pengolahan, point cloud dapat digunakan untuk membuat berbagai data pemetaan.
Salah satunya adalah Digital Terrain Model atau DTM yang menggambarkan bentuk permukaan tanah setelah objek seperti vegetasi dan bangunan dipisahkan.
Ada juga Digital Surface Model atau DSM yang masih memperhitungkan objek-objek di atas permukaan, seperti pohon dan bangunan.
Dari data elevasi tersebut, surveyor juga dapat menghasilkan garis kontur, model tiga dimensi, analisis kemiringan, hingga berbagai data lain yang dibutuhkan untuk perencanaan.
Karena itulah point cloud bukan sekadar hasil sampingan dari survei LiDAR. Data ini justru menjadi salah satu dasar utama sebelum informasi pemetaan diolah lebih lanjut.
Point Cloud Juga Bisa Menyimpan Informasi Lebih dari Posisi
Selain koordinat tiga dimensi, point cloud juga dapat memiliki informasi tambahan.
Pada sistem tertentu, titik bisa memiliki nilai intensitas pantulan laser, nomor pantulan atau return, klasifikasi objek, bahkan warna RGB jika data LiDAR dikombinasikan dengan foto udara.
Informasi ini membantu proses identifikasi objek menjadi lebih mudah.
Misalnya, beberapa pantulan laser pada area vegetasi dapat membantu membedakan bagian kanopi dengan titik yang berhasil mencapai permukaan tanah.
Tapi semakin banyak titik bukan berarti hasilnya otomatis semakin baik.
Kualitas point cloud tetap bergantung pada sensor, perencanaan survei, posisi data, kondisi area, hingga bagaimana proses klasifikasi dan pembersihan data dilakukan.
Contoh Penggunaan Point Cloud pada Proyek Oseanland
Penggunaan point cloud bisa dilihat pada salah satu proyek Oseanland Services Indonesia untuk pemetaan koridor jalan di Sumatera Utara.
Area yang dipetakan mencapai sekitar 1.490 hektare dan melewati kawasan perbukitan, vegetasi rapat, serta area yang rawan longsor.
Dalam proses pengolahannya, data point cloud LiDAR dipisahkan menjadi kelas ground dan non-ground. Titik-titik yang dianggap sebagai noise juga dibersihkan sebelum digunakan untuk membentuk model permukaan tanah dan peta kontur.
Dari proses tersebut, salah satu hasil yang diserahkan kepada klien adalah data mentah point cloud dalam format LAS dengan informasi RGB.
Data yang sama kemudian menjadi dasar untuk menghasilkan DTM dan DSM dengan resolusi spasial 0,5 meter serta peta kontur dengan interval 1 meter.
Contoh ini menunjukkan bahwa satu data point cloud dapat dikembangkan menjadi beberapa jenis output sesuai kebutuhan pekerjaan.
Untuk melihat metode survei, perangkat yang digunakan, serta hasil pengolahannya, baca selengkapnya studi kasus Pemetaan LiDAR High-Precision untuk Mitigasi Bencana dan Perencanaan Infrastruktur Jalan Koridor Sumatera.
Point Cloud untuk Kebutuhan Pemetaan
Penggunaan point cloud LiDAR cukup luas.
Datanya dapat dimanfaatkan untuk pemetaan topografi, perencanaan jalan dan infrastruktur, kawasan pertambangan, kehutanan, perhitungan volume, hingga dokumentasi kondisi suatu area secara tiga dimensi.
Namun kebutuhan setiap proyek tentu tidak sama.
Ada proyek yang membutuhkan kepadatan titik tinggi, ada yang lebih mengutamakan kemampuan membaca permukaan tanah di bawah vegetasi, dan ada pula yang membutuhkan integrasi dengan foto udara.
Oseanland Indonesia menyediakan layanan survei LiDAR dan pemetaan yang dapat disesuaikan dengan kondisi area serta output yang dibutuhkan. Data yang diperoleh tidak berhenti pada proses akuisisi, tetapi dapat diolah menjadi point cloud, model elevasi, kontur, hingga berbagai data geospasial untuk kebutuhan proyek.
Jadi ketika melihat hasil pemetaan LiDAR dalam bentuk peta atau model tiga dimensi, ada proses panjang di belakangnya.
Dan semuanya berawal dari kumpulan titik yang disebut point cloud.
Butuh Data Point Cloud LiDAR untuk Proyek Anda?
Setiap proyek memiliki kebutuhan data pemetaan yang berbeda. Ada yang membutuhkan model permukaan tanah, visualisasi tiga dimensi, hingga data elevasi untuk mendukung perencanaan infrastruktur. Karena itu, penting untuk menentukan metode survei dan hasil pengolahan data sejak awal agar informasi yang diperoleh benar-benar sesuai dengan kebutuhan.
Oseanland Indonesia Group menyediakan pilihan teknologi dan perangkat LiDAR, sementara PT Oseanland Services Indonesia mendukung kebutuhan layanan survei serta pengolahan data geospasial.
Masih bingung menentukan teknologi LiDAR atau jenis data pemetaan yang sesuai untuk proyek Anda?
Konsultasikan kebutuhan proyek Anda bersama tim Oseanland untuk menemukan solusi pemetaan yang sesuai dengan kondisi lapangan, luas area, dan hasil data yang dibutuhkan.

