Indonesia punya wilayah daratan dan perairan yang sangat luas. Kondisi ini tentu menjadi keuntungan, tapi di sisi lain juga membuat proses monitoring tidak selalu mudah dilakukan.
Bayangkan saja jika harus mengecek kondisi perkebunan seluas ribuan hektare satu per satu. Belum lagi kawasan hutan yang sulit dijangkau, atau wilayah pesisir dan laut yang luasnya jauh lebih besar.
Melakukan survei lapangan tetap penting. Namun untuk mendapatkan gambaran awal mengenai kondisi suatu wilayah, kini ada cara lain yang bisa digunakan, salah satunya melalui citra satelit.
OrbView misalnya, menyediakan beberapa jenis data seperti citra optik, hyperspectral hingga Synthetic Aperture Radar atau SAR.
Masing-masing ternyata punya kegunaan yang berbeda.
1. Memantau Pertanian dan Perkebunan dari Atas
Pada kawasan pertanian dan perkebunan, luas wilayah sering menjadi tantangan utama dalam melakukan monitoring.
Melalui citra satelit, pengguna bisa memperoleh gambaran suatu kawasan tanpa harus terlebih dahulu mendatangi seluruh bagian lahan.
Citra optik dapat digunakan untuk melihat pola penggunaan lahan, blok perkebunan, perubahan tutupan lahan, hingga perkembangan area dari waktu ke waktu.
Misalnya, pengguna ingin mengetahui apakah terdapat perubahan pada suatu blok perkebunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Data citra dari dua periode berbeda bisa dibandingkan untuk melihat perubahan tersebut.
Cara ini tentu bukan berarti menghilangkan kebutuhan survei lapangan. Namun informasi dari satelit bisa membantu menentukan area mana yang perlu diperiksa lebih lanjut.
2. Bagaimana dengan Kondisi Tanamannya?
Nah, kalau citra optik lebih mudah digunakan untuk melihat kondisi wilayah secara visual, hyperspectral imagery punya cara kerja yang sedikit berbeda.
Sensor hyperspectral tidak hanya merekam warna yang bisa dilihat mata manusia.
Teknologi ini merekam pantulan objek pada banyak spectral bands. Bahkan beberapa sumber hyperspectral yang tersedia melalui OrbView memiliki lebih dari 100 hingga 300 spectral bands.
Kenapa sebanyak itu?
Sebab tanaman atau material yang terlihat memiliki warna hampir sama belum tentu mempunyai respons spektral yang sama.
Informasi tersebut bisa memberikan data tambahan untuk kebutuhan seperti monitoring tanaman, precision agriculture, analisis vegetasi hingga pengamatan perubahan kondisi lahan.
3. Bisa Juga Digunakan untuk Kawasan Hutan
Kondisi yang hampir sama juga ditemui pada sektor kehutanan.
Kawasan hutan biasanya memiliki area yang luas dan tidak seluruh lokasinya mudah dijangkau melalui jalur darat.
Citra satelit dapat membantu melihat perubahan tutupan lahan maupun kondisi kawasan dari periode ke periode.
Dengan data multi-temporal, pengguna dapat membandingkan citra lama dan terbaru untuk mengetahui apakah terjadi perubahan di suatu area.
Informasi tersebut kemudian dapat digunakan sebagai data awal untuk mendukung monitoring lingkungan, pengelolaan kawasan maupun kegiatan inventarisasi.
4. Dari Daratan, Sekarang Beralih ke Laut
Menariknya, penggunaan citra satelit tidak hanya terbatas pada daratan.
Wilayah pesisir dan laut juga bisa diamati menggunakan teknologi Earth Observation.
Namun ada tantangan lain ketika melakukan monitoring wilayah perairan.
Cuaca bisa berubah, area yang perlu diamati sangat luas, dan pengamatan langsung menggunakan kapal tentu membutuhkan waktu.
Untuk kebutuhan seperti ini, salah satu data yang bisa dimanfaatkan adalah SAR.
Berbeda dengan citra optik, SAR merupakan sistem aktif yang mengirimkan gelombang microwave ke permukaan bumi dan merekam kembali pantulannya.
Karena karakteristik tersebut, SAR dapat melakukan pengamatan baik pada siang maupun malam dan relatif tidak terlalu terpengaruh oleh awan.
5. Apa yang Bisa Dilihat di Wilayah Maritim?
Dalam sektor maritim, data SAR secara umum digunakan untuk membantu monitoring kapal dan aktivitas di wilayah perairan.
Data ini juga bisa dimanfaatkan untuk pengamatan kawasan pelabuhan, pesisir hingga membantu mengidentifikasi indikasi tumpahan minyak di laut.
Kemampuan tersebut cukup menarik bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.
Sebab wilayah yang perlu diamati tidak hanya berada di daratan, tetapi juga mencakup kawasan pesisir dan perairan yang sangat luas.
Jadi, Harus Menggunakan Data yang Mana?
Jawabannya tergantung apa yang ingin diketahui.
Jika kebutuhan utamanya adalah melihat kondisi suatu area secara visual, citra optik bisa digunakan.
Untuk memperoleh informasi spektral yang lebih detail mengenai tanaman atau vegetasi, hyperspectral dapat menjadi pilihan.
Sementara itu, jika pengamatan dilakukan di wilayah laut atau daerah yang sering tertutup awan, SAR memiliki karakteristik yang lebih sesuai.
OrbView juga menyediakan archive imagery jika pengguna membutuhkan data lama, serta new tasking apabila dibutuhkan pengambilan citra baru pada area dan periode tertentu.
Pada akhirnya, citra satelit bukan hanya soal melihat bumi dari atas.
Data yang tepat dapat membantu mengetahui perubahan perkebunan, mengamati kawasan hutan, menganalisis vegetasi hingga melakukan monitoring di wilayah pesisir dan laut.
Bagi perusahaan maupun instansi yang membutuhkan citra satelit untuk pertanian, perkebunan, kehutanan maupun monitoring maritim dan pesisir, Oseanland Indonesia dapat membantu menentukan jenis citra, resolusi dan periode akuisisi yang sesuai dengan kebutuhan proyek.
